Sunday, May 13, 2012

ANALISA PESAN DAKWAH BERCORAK SENI TAREKAT SAMMANIYAH

Tradisi menyebarkan agama Islam melalui seni adalah salah satu tradisi yang telah dipraktekkan sejak zaman Rasulullah saw. Pada Zamannya Rasulla Tarekat Sammaniyah merupakan salah satu aliran tarekat yang paling tua di kecamatan Gayo Lues. Tarekat ini berdiri pada masa kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-7 M.  Dakwah merupakan salah satu usaha yang berupa ajakan dengan sadar dan terencana untuk mengajak seseorang ataupun agar lebih sadar dan mengamalkan ajaran Islam pada setiap aspek kehidupan, dengan murni dan konsekuen.[1] Dakwah juga bisa diartikan sebagai ajakan baik secara lisan maupun tulisan, tingkah laku dan lain sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana untuk mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun kelompok agar supaya timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan serta pengamalan terhadap ajaran agama sebagai pesan yang disampaikan kepadanya dan tanpa adanya unsur-unsur paksaan.[2]

Dakwah dikonotasikan dengan pembinaan. Artinya, dakwah merupakan sebuah usaha untuk melestarikan dan mempertahankan ummat manusia agar mereka tetap beriman kepada Allah swt. dengan menjalankan syari’atNya. Dakwah ini merupakan kewajiban seluruh ummat Islam yang tergambar dalam suruhan amar ma’ruf nahi munkar.[3]

Mereka yang berpraktek dalam dunia dakwah pada umumnya berpendapat bahwa keberhasilan dakwah itu sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk strategi dakwah yang diterapkan yang mencakup didalamnya metode dan sarana-sarana dakwah yang ada. Selain itu juga pendekatan dakwah yang digunakan oleh para praktisi dakwah sangatlah urgen dan siginifikan dalam mewujudkan keberhasilan dakwah.

Keberhasilan dakwah ini dapat dilihat dari bagaimana para komunikan bisa memahami pesan-pesan yang disampaikan dalam dakwah tersebut. Tidak hanya sampai di situ, keberhasilan dakwah juga dilihat dari pengaruh dakwah tersebut dalam kehidupan para komunikan setelah dakwah disampaikan.

Pengaruh dakwah yang sama pada masyarakat kota pada umumnya tidaklah sama dengan pengaruh yang akan terdapat pada masyarakat desa. Artinya dakwah yang sama akan menghasilkan persepsi berbeda dalam pandangan masyarakat kota dengan pandangan pada masyarakat desa. Perbedaan pesan yang diterima ini terjadi karena beberapa hal, baik karena prinsip keagamaan yang berbeda di antara keduanya, sistem sosial yang berlaku dan tingkat pendidikan yang juga tentu berbeda.

Pendekatan sosiologis terhadap masyarakat desa menyimpulkan bahwa masyarakat desa umumnya berkelompok atas dasar garis kekeluargaan. Sementara masyrakat kota lebih cenderung untuk bersifat individual karena berbagai kepentingan individual yang berbeda.[4]

Dalam dimensi agama, masyarakat desa umumnya masih bersifat menganut kepercayaan sesuai yang diwariskan oleh para pendahulu mereka. Sifat taklid ini biasanya membawa pengaruh lain dalam kehidupan beragama yakni fanatisme yang berlebihan terhadap sebuah kepercayaan tanpa mengatahui kebenaran ataupun dasar kepercayaan tersebut.

Dalam masyarakat desa, biasanya tokoh agama mempunyai tempat penting dan terhormat, karena tokoh agama inilah yang dijadikan tempat bertaklid dalam kehidupan beragama dan dalam beberapa dimensi kehidupan lainnya. Ajaran agama yang sering bercampur aduk dengan budaya atau adat setempat inilah yang menjadikan maysarakat desa sering disebut sebagai penganut ajaran sinkretis atau ajaran agama yang bercampur dengan yang bukan agama.[5]

Perbedaan mencolok lainnya yang akan terlihat pada masyarakat desa dalam perbandingannya dengan masyarakat kota adalah tingkat pendidikan yang relatif rendah. Hal ini juga tentu sangat berpengaruh dalam mewujudkan besar kecilnya peluang bagi dakwah untuk berhasil. Selain itu tingkat pendidikan ini juga akan bepengaruh besar dalam menentukan cara-cara yang tepat dipakai dalam menyampaikan dakwah.[6]

Sifat dan corak masyrakat di atas terdapat juga pada masyrakat pedesaan Gayo. Seperti pada masyarakat pedesaan lainnya, masyarakat Gayo mempunyai ciri-ciri sinkretis, fanatis, tingkat pendidikan relatif rendah bila dibandingkan dengan masyrakat kota, bertaklid kepada tokoh agama yang dianggap sebagai panutan dalam kehidupan beragama.

Dengan begitu kehidupan beragama pada masyrakat pedesaan Gayo adalah bersifat taklid atau dengan kata lain hanya mengikuti tradisi hidup yang berlangsung sejak lama dan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Selain itu ajaran Islam yang dianut oleh masyrakat ini juga terkesan bercampur dengan adat tanpa adanya pembatasan yang jelas.

Adalah Tarekat Sammaniyah yang merupakan salah saru lembaga, meskipun dalam arti sederhana, yang sungguh dikenal oleh masyrakat Gayo pada umumnya. Dalam sejarah perkembangannya disebutkan bahwa Tarekat ini mengambil kesenenian daerah sebagai sarana untuk dakwah.

Seni adat setempat oleh aliran tarekat Sammaniyah kemudian berubah menjadi salah satu saran penyiaran pesan-pesan Islam. Seni adat masyarakat Gayo disini adalah seperti tari Didong, tari Samanh, Melengkan dan sebagainya. Di dalam tarian dan kesenian inilah pesan-pesan Islamis disisipkan oleh aliran Tarekat Sammaniyah pada awal perkembangannya. Pesan-pesan itu bisa berupa kalimat syahadat ataupun basmalah.

Pada masyrakat Gayo pengaruh tarekat Sammaniyah ini masih terliaht sampai sekarang. Hal ini ditandai dengan terus berkembangnya tarian Saman yang dahulunya merupakan ratib tarekat Saman. Ratib yang kemudian disadur menjadi tarian ini sangat erat hubungannya dengan misi penyiaran agama Islam pada masyrakat Gayo.

Asumsi awal kami menyatakan bahwa ada hubungan yang kuat antara ajaran agama Islam yang dipegang teguh oleh masyrakat Gayo dengan tarekat Sammaniyah ini. Karena selain tarekat ini merupakan tarekat yang sudah cukup tua dan mengakar pada masyrakat Gayo, juga tarekat ini adalah merupakan salah satu tareka yang terkenal di kalangan masyrakat Gayo.

Akan tetapi ternyata, seperti halnya pada masyarakat pedesaan lainnya, seperti yang diuraikan sebelumnya, keberagamaan masyarakat pedesaan Gayo masih bersifat taklid dan sinkretis. Hal ini sungguh bertolak belakangan dengan teori bahwa sufisme mengajarkan agama dengan mengenal tuhan. Lalu bagaimana kemudian taklid ini muncul, bagaimana sebenarnya pengaruh tarekat Sammaniyah ini di masyarakat pedesaan Gayo.

Berangkat dari uraian keadaan di atas, penulis yang memang berasal dari Aceh tertarik untuk menelitinya secara ilmiah, yakni meneliti peangaruh tarekat Sammaniyah, yakni tarekat yang diajarkan oleh Teuku Samman, pada masyarakat pedesaan Gayo.

B. Rumusan Masalah.

Sejalan dengan latar masalah yang diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimanakah pengaruh Tarekat Sammaniyah dalam pembinaan agama pada masyrakat pedesaan Gayo”. Dari pokok masalah tersebut dapat dirumuskan beberapa fokus masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
  • Pembinaan apa saja yang dilaksanakan oleh Tarekat Sammaniyah dalam bidang agama di masyarakat pedesaan Gayo?
  • Bagaimakan persepsi masyarakat pedesaan Gayo menanggapi dakwah yang dilaksanakan oleh aliran Tarekat Sammaniyah ini?
  • Apakah masyarakat pedesaan Gayo menerapkan ajaran Islam prkatis pada kehidupan sehari-hari sesuai yang diserukan oleh aliran Tarekat Sammaniyah?

C. Tujuan Penelitian.

Secara umum tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan gambaran tentang pengaruh Tarekat Sammaniyah dalam pembinaan agama masyarakat pedesaan Gayo. Tujuan penelitian ini dapat diperjelasn sebagai berikut:
  • Untuk mengetahui pembinaan apa saja yang dilaksanakan oleh Tarekat Sammaniyah dalam bidang agama masyarakat pedesaan Gayo.
  • Untuk mengetahui persepsi masyarakat pedesaan Gayo dalam menanggapi dakwah yang dilaksanakan oleh aliran Tarekat Sammaniyah.
  • Untuk mengetahui apakah masyarakat pedesaan Gayo menerapkan ajaran Islam prkatis pada kehidupan sehari-hari sesuai yang diserukan oleh aliran Tarekat Sammaniyah.

D. Manfaat Penelitian.
  • Selanjutnya penelitian ini diharapkan berguna sebagai:
  • Bahan pertimbangan dan masukan bagi perkembangan dakwah khusunya pada masyarakat pedesaan Gayo.
  • Acuan dan bandingan bagi juru dakwah dalam pengembangan pembinaan agama khususnya pada masyarakat pedesaan Gayo.
  • Masukan untuk mahasiswa fakultas dakwah Islam.
  • Tambahan dalam khazanah pengetahuan Islam khususnya dalam bidang dakwah dan komunikasi.
  • Sebagai lanjutan dari penelitian sebelumnya “Metode Dakwah Tarekat Sammaniyah Pada Masyarakat Gayo (Suatu Pendekatan Kultur Masyrakat) di Kabupaten Gayo Lues”.
E. Batasan Istilah.

Untuk menghindari kesalah-pahaman, maka perlu dijelaskan beberapa istilah-istilah yang terdapat dalam judul.

1. Pengaruh.
2. Tarekat.

Secara etimologi, tarekat berasal dai bahasa Arab yaitu ¯arikoh yang berarti jalan. Kata ini juga bisa berarti metode atau suatu cara khusus yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan.[7] Secara terminologis, kata tarekat ini semula diartikan sebagai jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Namun kemudian istilah tarekat ini diberi makna sebagai metode psikologi moral yang membimbing seseorang untuk mengenal tuhan.[8]

3. Pembinaan Agama.

Pembinaan berasal dari kata dasar “bina” yang berarti membangun, mendirikan dan mengusahakan supaya lebih baik, dan pembinaan dapat diartikan sebagai suatu usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja, efektif dan efesien untuk mendapakan hasil yang maksimal.[9]

Sementara agama secara terminologi berarti"sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudusة kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal." Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan agama lagi, ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya, yang melibatkan dua ciri tadi. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya, dan memiliki sifat yang historis.[10]

4. Masyarakat Pedesaan.

Masyarakat desa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah masyrakat yang tinggal di daerah pedesaan (tidak termasuk masyrakat yang tinggal di kota) atau daerah tingkat II kabupaten Gayo Lues. Dasar penetuan pembedaan desa dengan kota di sini adalah sesuai dengan pandangan umum yang berlaku di daerah kabupaten Gayo Lues.

5. Masyarakat Gayo.

Kabupaten Gayo Lues adalah suatu wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tengah di sebelah Utara, Kabupaten Aceh Timur di sebelah Timur, Kabupaten Tenggara di sebelah Selatan, Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Selatan di sebelah Barat.

F. Sistimatika Pembahasan.

Untuk lebih runtutnya pembahsan terhadap objek studi ini, maka hasil penelitian yang diperoleh disajikan secara sistematis dan lima bab dan pada setiap bab terdapat beberapa sub-bab. Sistimatika dimaksud adalah sebagai berikut: Pembahasan studi dimulai dari bab pertama yang merupakan bagian pendahuluan. Di dalamnya dikemukakan tentang latar belakang masalah, identifikasi dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian dan sistimatika pembahasan. Bab kedua membahas studi pustaka yang berhubungan dengan objek penelitian, didalamnya diuraikan kajian terdahulu, landasan teoritis, paradigma penelitian dan hipothesis. Pada bab ketiga dikemukakan metodologi yang digunakan alam penelitian ini, yakni populasi dan sampel, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisadata serta lokasi dan waktu penelitian. Selanjutnya pada bab keempat dikemukakan hasil penelitian dan pembahasan, yakni uraian tentang pengaruh Tarekat Sammaniyah terhadap pembinaan agama masyrarakat pedesaan kabupaten Gayo Lues. Bab terakhir, bab kelima merupakan bagian penutup yang berisi beberapa kesimpulan dan saran.

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijnkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah ANALISIS KUALITATIF DALAM PENELITIAN SOSIAL, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini. Salam saya Ibrahim Lubis. email:ibrahimstwo0@gmail.com
Daftar Pustaka dan Footnote

[1] T. A. Latief Rousydy, Retotirak Komunikasi dan Informasi (Medan: Rainbow, 1985), h. 39.

[2] M. Arifin, Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 19.

[3] Ali Mustafa Ya’qub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), h. 221.

[4] Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatau Pengantar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, tth.), h. 153.

[5] Abdul Munir Mulkan, Islam Murni Dalam Masyrakat Petani (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2000), h. 20.

[6] Anwar Masy’ari, Butir-Butir Problematika Dakwah Islamiah (Surabaya: Bina Ilmu, 1993), h. 68.

[7] Harun Nasution, Tariqat Qadariyah Naqsyabandiyah Sejarah Asal-Usul dan Perkembangannya (Tasik Malaya: IAILM, 1991), h. 25.

[8] Mirce Ahade, The Enciclopedia of Islam (New York: McMillan Publisher, 1978), h. 342.

[9] Departemen Penndidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), h. 59.

[10] Mohamad Zaki Hussein, Sosiologi Agama Durkheim. Artikel internet, didownload pada 25 jan 2007.

No comments:

Post a Comment